Asal Usul Dewa Jodoh Orang Tionghoa

0
22 views

RADAR PALEMBANG – MENURUT catatan sejarah, pemujaan terhadap Yue Xia Lao Ren dimulai sejak jaman Dinasti Tang (618-907). Di kalangan masyarakat Tionghoa, Beliau juga sering disebut sebagai Yue Lao, yang berarti “Orang Tua dari Bulan”. Yue Lao divisualisasikan sebagai seorang laki-laki tua berwajah lembut dan berjenggot putih.

Dewa Yue Lao bertugas untuk menentukan jodoh manusia, dan mengurus kisah percintaan diantara mereka. Karena itu, Beliau dikenal dengan sebutan “Dewa Jodoh” nya bangsa Tiongkok dan perantauannya.

Selain itu, Dewa ini diketahui sering turun ke dunia, dan gemar mengikat tali/simpul benang merah di antara kaki 2 anak manusia (pria dan wanita).

Tetapi tentu saja benangnya tidak dapat terlihat oleh mata manusia awam seperti kita. Hari kebesaran Dewa Yue Lao diperingati setiap tanggal 15 bulan 8 Imlek, yang juga merupakan hari festival kue bulan. Asal usul Dewa Yue Lao sendiri memiliki beberapa versi cerita. Salah satunya adalah sebagai berikut seperti dikutip dari tionghoa.info.

Dikisahkan pada tahun Zhenguan ke-2 (628 M; jaman Dinasti Tang), ada seorang sarjanawan yang bernama Wei Gu  yang dalam perjalanannya tiba di Kota Songcheng untuk memperdalam ilmu kesusastraannya.

Suatu ketika dia menjumpai seorang pak tua sedang duduk membaca buku. Di bawah pencahayaan sinar bulan purnama, tulisan2 dalam buku itu terlihat aneh, dan belum pernah dia lihat sebelumnya.

Ketika Wei Gu menanyakan siapa sesungguhnya dia, pak tua menjawab bahwa Ia bukan berasal dari dunia manusia, dan tugasnya adalah menyatukan jodoh antara pria dan wanita di dunia. Sedangkan buku yang dibawanya adalah buku yang mencatat tentang perjodohan itu.

Lalu si tua mengeluarkan seutas benang merah sambil berkata “Pria dan wanita yang kakinya telah kuikat dengan benang ini, akan menjadi pasangan suami istri selamanya.”

Wei Gu pun penasaran, lalu mencoba untuk menanyakan siapa calon istrinya kelak, dan dimana dia sekarang berada, Lalu pak tua itu menjawab, bahwa calon istrinya saat ini masih berusia 3 tahun, dan mereka akan menikah 14 tahun kemudian, lalu berkata “Kalau kau ingin melihat calon Istrimu, ikutlah denganku sekarang”, kata pak tua.

Mereka kemudian berjalan bersama ke dalam kota dan memasuki sebuah pasar. Di sana mereka menjumpai seorang wanita yang matanya telah buta sebelah, sementara menjual sayuran sambil menggendong seorang anak perempuan yang berusia 3 tahun.

Melihat itu, Wei Gu tiba-tiba naik pitam. Betapa tidak. Ia yang berasal dari keluarga berada dan terpelajar, bagaimana bisa berjodoh dengan seorang anak penjual sayur yang miskin, lalu berkata “Kalau memang dia calon istri-ku, akan kubunuh dia sekarang,” katanya.

Pak tua kemudian melarangnya dan berkata, “Semua ini telah ditentukan oleh takdir. Anda tidak akan berhasil membunuhnya”. Wei Gu pun bergegas meninggalkan lokasi, dan mencari penginapan.

Sesampainya di penginapan, dia mengupah seseorang di kota itu untuk menghabisi nyawa anak perempuan penjual sayuran yang ditemuinya tadi di pasar.

Karena tergiur akan bayaran yang dijanjikan, sang abdi pun bergegas melakukan untuk melakukan perintah tuannya, dan segera pergi ke pasar yang dimaksud. Ditengah kerumuman orang, dia berhasil menusuk bocah perempuan itu dengan sebilah pisau. tapi karena takut dihakimi massa, dia segera berbegas meninggalkan lokasi.

Jadi hidup atau mati-nya si bocah perempuan tadi, ia sendiri tidak dapat memastikannya. Dia pun pulang melapor, dan mengambil bagiannya. Tapi dalam hatinya, Wei Gu merasakan penyesalan atas perbuatannya. Untuk melupakan peristiwa itu sesegera mungkin, ia lalu bergegas meninggalkan Kota Songcheng.

Setelah itu, Wei Gu pun melanjutkan petualangannya ke berbagai kota. Selama perjalanannya, tidak sedikit gadis cantik yang telah ditemuinya. Namun setelah beberapa kali berusaha meminang gadis cantik dari keluarga terkemuka, Wei Gu ditolak.

Sampai suatu hari, Wei Gu akhirnya berhasil memperoleh jabatan (pemerintahan) di Kota Xiangzhou  Guangdong. Ketika itu, dia telah berusia 30-an tahun dan tetap membujang.

Gubernur Xiangzhou yang kala itu adalah atasannya, mempunyai seorang putri yang cantik. Ia terkesan akan pribadi Wei Gu, dan bermaksud untuk menjodohkan putrinya itu.

Mendengar hal ini, Wei Gu pun girangnya bukan main dan menerimanya; karena calon istri-nya ini tidak saja cantik, tetapi juga berasal dari keluarga pejabat tinggi.

Singkatnya, setelah beberapa hari menikah, Wei Gu merasa heran sebab istrinya tidak pernah melepaskan kain penutup di pundaknya. Ketika didesak, akhirnya sang istri mengaku bahwa ia berusaha menyembunyikan bekas luka yang ada di pundaknya tersebut.

Istrinya pun akhirnya membuka identitasnya, dimana dia sesungguhnya ia adalah putri seorang wedana (pembantu pimpinan wilayah setingkat kabupaten) di Kota Songcheng.

Sewaktu berusia 3 tahun, Ayahnya meninggal, dan Ibunya menyusul tak lama kemudian. Dia kemudian dirawat oleh ibu susunya (pengasuh). Untuk mengisi kegiatan, ibu susunya berjualan sayur di pasar.

Pada waktu sedang menemani pengasuhnya berjualan di pasar, seorang lelaki tiba2 berusaha untuk menusuknya. Tetapi untungnya dia selamat, dan hanya bagian pundaknya saja yang terluka. Setelah kedua orang tuanya meninggal, pamannya yang sekarang menjadi Gubernur Xiangzhou mengambilnya dan mengasuhnya sebagai anak sendiri.

Mendengar kisah yang dituturkan istrinya, Wei Gu pun terperanjat kaget. Roman mukanya berubah. Ketika ditanyakan apakah ibu susunya yang berjualan sayur di pasar itu sebelah matanya buta, sang Istri mengiyakan. (bersambung)