Ilusi Hampir 5 Ribu Kolam Lele DHD di Desa Betung

0
Kolam lele organik di Desa Betung Kecamatan Abab Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Ada 4.974 kolam di sini.

RADAR PALEMBANG – Sejak dugaan penyelewengan dan penipuan Koperasi Darsa Harka Darussalam (DHD) Farm Indonesia ternak ikan lele organik mencuat ke publik, suara mitra terus digali.

Salah satunya mitra DHD yang cukup banyak berada di Desa Betung Kecamatan Abab Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), karena di sini (Betung) ada sekitar 4.974 kolam.

Hidir mengungkapkan, mitra DHD  berasal dari Desa Betung Betung termasuk terbesar, karena kolam mitra DHD mencapai  4.974 kolam yang tersebar di dua lokasi yaitu Desa Betung dan Prambatan dalam kecamatan yang sama.

“Di Betung ada sekitar 1.200 kolam, sedangkan yang berproduksi atau terpasang 1.040 kolam, sedangkan di Desa Prambatan jumlah kolam 3.774,  terpasang 910, sedangkan yang tidak terpasang  2.864, jumlah seluruhnya yang tidak terpasang 3.024,” kata Hidir kepada awak media.

Hidir menuturkan tidak terpasangnya kolam yang diinvestasikan oleh mitra membuat mitra curiga, kecurigaan kian mulai terbuka karena sejak Juli tahun ini uang bagi hasil yang dijanjikan Rp 960 per 40 hari hingga saat ini nunggak atau tidak pernah dibayar. Kondisi ini seperti ilusi, banyak kolam tapi tak berfungsi.

Informasi yang ia terima  ada sekitar 23 cabang yang tersebar di Sumsel maupun daerah lainnya.

DHD sendiri masuk Desa Betung sejak 2018 secara perlahan makin banyak yang menjadi mitra DHD, karena keuntungan yang diberikan cukup besar dan uang yang dibayar oleh DHD selama ini berjalan dengan lancar sehingga semakin banya masyarakat tergiur untuk menjadi mitra.

Ia sendiri menjadi mitra DHD dengan 60 kolam kurang lebih, untuk menjadi mitra dirinya bersama keluarga besar harus menyetor uang secara cash maupun transfer Rp 10-12 juta per kolam.

Ia sangat berharap uang modal yang dikeluarkan oleh keluarga besar dapat dikembalikan karena uang tersebut didapatkan dari mengadaikan sertifikat rumah, tanah maupun kebun ke bank.

“Kalau ini macet otomatis kami kesulitan untuk membayar cicilan ke bank, dari mana lagi kami mau membayar cicilan, semoga uang kami kembali,”harap Hidir dengan penuh rasa sedih.

Dulu ketika masuk DHD karena atas dasar kepercayaan dan omzet yang ditawarkan sangat mengiurkan Rp 960 ribu per kolam.”Ada yang membayar secara cash maupun transfer ke rekening pribadi manajemen DHD,”ujarnya.

Ia tidak menyangka DHD akan seperti ini padahal begitu banyak mitra DHD yang menanamkan investasinya.(zar)