Lebih Selektif, Akad KPR Turun

0
0 views

RADAR PALEMBANG – Pandemi Corona Virus Disease (Covid) 19 yang terjadi di Tanah Air telah menyebabkan pukulan di berbagai sektor industri, tak terkecuali sektor properti. DPD Real Estate Indonesia (REI) Sumatera Selatan mengakui adanya penurunan akad KPR. Selain itu, saat krisis ini dihimbau agar para anggota untuk memaksimalkan bisnis yang telah berjalan sebelum corona menyebar atau jangan berekpansi terlebih dahulu.

Sekretaris DPD REI Sumsel, Zewwy Salim, Senin (13/4) mengatakan untuk sektor properti, sedikit banyak wabah corona ini membuat hampir semua segi ekonomi dan bisnis terganggu. “Salah satu (terdampak corona,red) properti,”kata dia, kepada Radar Palembang.

Dimana, sambung dia, segi penjualan mengalami penurunan, segi realisasi kredit dan pengajuan kredit, dengan adanya wabah corona, suka tidak suka, sektor properti terkena imbasnya wabah corona.

Sederhananya, kata Zewwy, bank kini lebih selektif dalam realisasi KPR, agak lebih susah (persetujuan pembiayaan KPR ke debitur,red) dan bank ada kriteria khusus (calon debitur KPR,red) sikapi masalah corona ini.

Hal ini, dikarenakan adanya ancaman pemutusan hubungan kerja yang cukup banyak terkait terganggunya operasi sejumlah sektor bisnis akibat wabah corona yang membuat pemerintah menerapkan social distancing atau pembatasan sosial.

Sehingga, ruang gerak masyarakat kini menjadi lebih terbatas, termasuk ada anjuran dari pemerintah untuk tetap dirumah guna menghindari penyebaran corona membuat aktivitas bisnis perusahaan tempat pekerja calon debitur KPR terganggu.

Apalagi, sektor pekerja merupakan potensi pasar pembiayaan KPR, khususnya rumah subisidi selama ini cukup besar dari sisi jumlah unit. “Paling kena dampaknya para pekerja, oustsourcing. Kita juga lihat isu PHK dan pegawai yang dirumahkan,”kata dia.

Adanya ancaman perumahan pekerja tersebut, maka sikap makin berhati-hati diterapkan oleh perbankan. Menurut Zewwy, di sektor perbankan diberikan akan timbulkan (kekhawatiran,red) kredit macet, karenanya harus selektif.

Ia menambahkan, memang proses akad kredit masih berjalan, tapi ada beberapa bank di hold (penundaan akad KPR,red) sementara, semua masih menunggu. “BTN, di core business-nya di perumahan, hingga saat ini masih berjalan (akad KPR,red).”

Meski demikian, diakuinya, proses pembiayaan saat ini, tidak seperti (jumlahnya,red) yang terjadi sebelum wabah corona, apalagi sekarang ada social distancing sehingga masyarakat kalau mau keluar rumah, harus benar-benar ada tujuan penting.

Untuk itu, REI Sumsel menghimbau kepada anggotanya agar jangan melakukan ekspansi terlebih dahulu saat ini. “Kita mewanti-wanti untuk kepada anggota untuk lihat situasi ini (dampaknya,red), dan lebih fokus dulu bisnis yang ada,”ungkapnya.

Bisnis yang ada, dimaksud yakni proyek perumahan yang sudah dilaksanakan atau dijalankan sebelum wabah corona merebak. Dan, dihimbau jangan melakukan pembukaan perumahan baru serta agar lebih memperhatikan efek dari corona ke sektor properti.

Terkait ada program restrukturisasi pembiayaan, termasuk perumahan disambut baik DPD REI Sumatera Selatan. “Kita mendukung pemerintah dalam memberikan kebijakan restrukturisasi kredit,”jelas dia. Selain itu, DPD REI Sumatera Selatan juga berharap agar wabah corona ini segera teratasi dan selesai sehingga bisnis serta perekonomian kembali berjalan.

“Pemerintah pusat dan daerah sudah bekerja keras untuk mengantisipasi dan mengurus masyarakat terdampak corona. Kita juga berharap masa recovery tak lama setelah wabah corona ini selesai dan perekonomian kembali berjalan,”ujar dia.

Sebelumnya, untuk mengantisipasi dampak yang lebih dalam di sektor properti, pemerintah telah memberikan stimulus. Presiden Joko Widodo pada Selasa (24/3/2020) mengumumkan bahwa salah satu stimulus yang diberikan pemerintah adalah menambah kuota rumah subsidi dengan menyiapkan anggaran Rp1,5 triliun.

Penambahan subsidi ini akan direalisasikan pada April 2020 dengan mengaktifkan kembali program Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM). (dav)