Lestarikan Budaya Lokal Lewat Tarian

0

Official Putri Remaja Sumsel

RADAR PALEMBANG – Ingin memperkenalkan sekaligus melestarikan kebudayaan tradisional sejak dini, sekelompok anak yang tergabung dalam Official Putri Remaja Sumatera Selatan rutin mengikuti latihan tari setiap akhir pekan.

Ketua Official Putri Remaja Sumsel, Lusiana menjelaskan, ia merangkul putri remaja untuk melakukan kegiatan positif menari agar dapat mencintai tarian, mencintai kesenian, bukan mencintai budaya luar.

“Mereka bisa nari, bisa bekarya dengan kebudayaan kita bukan dengan dunia luar yang sekarang pakai baju sexy. Saya kepengennya mereka bisa menari terutama tari daerah,” tuturnya saat dibincangi kemarin.

Jadwal latihan sendiri dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 13.00 – 16.00 WIB. Untuk jadwal Sabtu, dilaksanakan di kediaman Wakil Wali Kota Palembang dan diikuti sekitar 60 peserta, latihan tari di tempat ini tidak dipungut biaya. Sementara untuk Minggu, latihan diadakan di rumah dinas Ketua DPRD Sumsel dan saat ini diikuti sekitar 25 peserta.

“Untuk peserta hari Minggu lebih eksklusif. Putri remaja yang sudah kita pilih akan dipersiapkan mengikuti lomba tingkat nasional. Belakangan, banyak orangtua yang anaknya masih kecil juga ingin ikut latihan tari ini. Peserta tari di sini kita persiapkan untuk tampil di TV dan ada juga untuk ajang lomba nasional.

Untuk lebih mempersiapkan putri remaja mengikuti ajang nasional pada bulan Oktober, November, dan Desember mendatang, Lusiana meminta tenaga pengajar senior, seniman, pencipta tari Tanggai, Elly Rudi untuk melatih mereka.

“Saya gak mau salah pilih guru untuk mengajar anak-anak, karena 40 persen talent yang ditampilkan sangat menentukan. Kalau bagus, oke, menjiwai, pasti kemenangan ada pada kita. Makanya saya percayakan Ibu Elly yang sudah berpengalaman untuk mengajar mereka, jadi gak sia-sia, karena kalau sudah berangkat nasional mereka harus bawa piala,” tegasnya.

Sementara Elly Rudi mengatakan, ia memiliki misi khusus untuk mengembangkan Sumsel melalui tarian. Disebutkannya, ia mendapat amanat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel dan Dinas Pariwisata Kota Palembang untuk mengangkat tari tradisional yang hampir punah tergerus oleh zaman.

“Alhamdulillah, di usia saya yang 76 tahun ini, saya masih bisa bermanfaat bagi orang banyak. Ketimbang saya di rumah saja tanpa melakukan kegiatan apa-apa, malah saya bisa sakit,” ucapnya.

Menurut penari Gending Sriwijaya yang sudah melanglang buana ke Mancanegara ini, tari dibedakan untuk anak-anak dan remaja. Berdasarkan psikologi, anak-anak masih suka bermimpi dan berkhayal, belum bisa dikasih tari yang serius. “Saya katakan berulang kali tari Tanggai itu untuk para remaja, karena mereka sudah memiliki gesture atau tubuh mereka sudah bisa pakai dodotan,” terangnya.

Ditambahkannya, untuk putri remaja, ia akan melatih tarian sesuai usia mereka seperti tari bedana, pagar pengantin, dan lainnya. Untuk peserta yang berusia dini, ia belum membebani mereka dengan tari tradisi yang sulit. “Mereka belum bisa berekspresi, kalau mereka sudah jatuh cinta, baru bisa mereka mengeluarkan ekspresi menangis, tersenyum. Kebetulan mereka di sini kebanyakan masih SMP, jadi saya belum bisa terapkan. Dalam tari itu ada olah tubuh dan olah rasa,” ujarnya.

Menurut dia, kalau sang anak betul-betul diajak ke sanggar, tidak hanya dibiarkan melihat android atau menari tanpa arti, mereka akan bisa lebih menyelami. “Karena saya baru pertama kali mengajar mereka, mereka belum jatuh cinta sama saya, tapi kalau sudah jatuh cinta otomatis mereka akan ikuti saya,” tutupnya. (hen)