Pandemi, Bisnis Hunian Eksis

0
4 views
Ilustrasi Bisnis Properti

RADAR PALEMBANG – Bisnis properti (hunian) tidak ada matinya. Selama peradaban manusia masih ada, bisnis properti masih berjalan. Para pengembang properti maupun pengamat menilai bahwa di tengah pandemi Covid-19 permintaan hunian masih berjalan.  Saat ini diperlukan adalah para pemasar properti harus mengubah cara memasarkan produk, meningkatkan pengetahuan, tidak semata soal dunia properti.

“Selain menggunakan platform digital, cara memasarkan properti juga harus berubah, mindset pemasar harus tahu target marketnya,” ujar Andi K Natanael, praktisi pemasaran properti, dalam sebuah webinar, baru-baru ini.

Pernyataan Andi terkonfirmasi dengan pengakuan sejumlah pengembang. Pada Semester I 2021 penjualan hunian mereka meningkat dibandingkan periode sama 2020. Selain rumah tapak (landed house), penjualan hunian vertikal (apartemen) juga ikut terkerek, terutama apartemen yang berorientasi transit (transit oriented development). Sejumlah faktor yang mendorong penjualan hunian pada paruh pertama 2021 di antaranya adalah insentif dan stimulus yang diberikan pemerintah maupun perbankan. Lalu, program vaksinasi Covid-19 yang berjalan sesuai target pemerintah.

“Tren peningkatan penjualan kami terutama dari kalangan milenial terus naik,” ujar Chief Executive Officer (CEO) PT Lippo Karawaci Tbk, dalam keterangan tertulisnya, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, pada semester I-2021, pihaknya berhasil mencapai angka prapenjualan Rp 2,33 triliun, melesat 122%_dan merupakan capaian 67%_dari target prapenjualan tahun ini. “Kami optimistis tahun ini dapat mencapai target prapenjualan sebesar Rp 3,5 triliun,” papar John.

Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti Rizkan Firman mengatakan, secara umum pada semester I-2021, marketing sales ACP melonjak dibandingkan dengan semester pertama tahun lalu. “Perbandingan marketing sales semester pertama tahun ini dengan tahun lalu kenaikannya sekitar 400%,” ujarnya kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, pemicu utama lonjakan marketing sales itu karena strategi marketing yang diterapkan Adhi Commuter Properti cukup efektif. “Serta animo calon investor/ konsumen yang makin kuat terhadap produk properti berbasis TOD. Apalagi posisi semua project kami berada di titik nol stasiun LRT/stasiun  commuter line/terminal BRT,” papar Rizkan.

Hal senada dilontarkan Direktur Utama PT Repower Asia Indonesia Tbk Aulia Firdaus. Marketing sales Repower melonjak 50% pada semester pertama 2021 dibandingkan periode sama 2020.

“Adanya insentif PPN serta berkat karunia dari Allah Tuhan yang maha kuasa, membuat kami masih bisa berjualan dengan baik pada triwulan kedua 2021. Marketing sales kami tumbuh lebih dari 50 persen pada semester pertama 2021 dibandingkan dengan periode sama 2020 menjadi lebih dari Rp 10 miliar,” papar dia, dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, baru-baru ini.

Peningkatan marketing sales juga dialami oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSD). Respons masyarakat atas produk-produk yang BSD tawarkan sangat antusias, hal tersebut tercermin dari hasil penjualan prapenjualan pada triwulan kedua 2021 yang mencapai Rp 4,5 triliun.

Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk Hermawan Wijaya mengatakan, BSD City Serpong tercatat sebagai proyek dengan kontribusi tertinggi yakni 48%, kemudian Nava Park (23%). “Dan kontributor lapis kedua dihasilkan dari Grand Wisata (8%), Zora (7%), Legenda Wisata (3%) dan Kota Wisata (3%),” jelas dia, dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.

Dampak Stimulus

Menurut Hermawan, animo konsumen meningkat seiring adanya insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang digulirkan pemerintah. Selain itu, khusus bagi BSD, juga dipicu oleh program marketing.

“Dengan beragam insentif seperti pembebasan PPN yang diberikan pemerintah dan program marketing yang dilakukan Sinar Mas Land, yakni Wish for Home untuk periode Maret hingga Desember membuat animo pembeli semakin meningkat. Tidak hanya di BSD City, tetapi juga proyek-proyek residensial lain yang kami miliki, angka penjualan meningkat drastis,” jelasnya.

Dia menambahkan, pembeli unit properti sangat paham atas prinsip lokasi dalam pemilihan unit, baik itu residensial, perkantoran, maupun komersial. “Kami sangat memperhatikan hal tersebut, selain lokasi yang strategis, proyek kami juga ditunjang oleh akses yang sangat baik dan didukung oleh manajemen tata kota yang prima sehingga menjadi pilihan utama bagi pembeli,” kata Hermawan.

Sebagaimana diberitakan pemerintah membebaskan PPN untuk rumah tapak dan rumah susun yang dibanderol berkisar Rp 300 juta hingga Rp 2 miliar. Lalu, mendiskon 50% untuk segmen harga Rp 2-5 miliar per unit.

Ketentuan itu tertuang di dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No 21/PMK.010/2021 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Penyerahan Rumah Tapak dan Unit Hunian Rumah Susun yang Ditanggung Pemerintah Tahun Anggaran 2021. PMK itu berlaku mulai 1 Maret 2021 hingga 31 Agustus 2021.

Kini, insentif itu diperpanjang hingga akhir Desember 2021 sesuai dengan PMK 103/PMK.010/2021 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Penyerahan Rumah Tapak dan Unit Hunian Rumah Susun yang Ditanggung Pemerintah Tahun Anggaran 2021.

Menurut Presiden Direktur PT Diamond Citra Propertindo Adam Bilfaqih, Diamondland mencermati adanya perubahan pola pasar properti yang menjadi lebih optimistis sejak awal 2021.

“Permintaan masyarakat dan konsumen terhadap produk-produk properti mulai tumbuh. Kondisi ini terjadi pada sejumlah pengembangan proyek yang dilakukan perseroan, khususnya di pasar apartemen_low rise,” kata dia,

dalam keterangan tertulis, Adam menjelaskan, di tengah pandemi Covid-19 saat ini, pihaknya berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 11,165 miliar. “Di tengah berbagai tantangan dalam dua tahun belakangan ini, Diamondland dapat membukukan kinerja yang positif kendati secara umum mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelum pandemi,” kata Adam.

Meningkatnya minat konsumen membelian hunian boleh jadi seperti kata Andi, karena properti merupakan kebutuhan dasar manusia. Tinggal bagaimana para pengembang properti memasarkan secara tepat kepada calon konsumen yang dituju.

Termasuk bagaimana menyodorkan konsep pembayaran yang cocok dengan para konsumen. Apalagi, mengutip data Bank Indonesia, pada semester I-2021, pembiayaan perbankan dengan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) tetap menjadi pilihan utama konsumen dalam pembelian properti residensial dengan pangsa mencapai 75,08% dari total pembiayaan. (seg)