Parah, Cuma 47 Perusahaan Batu Bara yang Penuhi DMO 100 Persen

0

 

RADAR PALEMBANG,  Dari total 578 perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) batu bara, ternyata hanya 47 perusahaan yang memenuhi kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) 100 persen.

Sisanya, 531 perusahaan hingga saat ini belum patuh untuk memenuhi kewajiban penjualan batu bara murah kepada PLN.

Hal itu disampaikan Menteri ESDM Arifin Tasrif, dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, di Jakarta, Kamis, 13 Januari 2022.

“Terkait dengan kewajiban DMO-nya ada 47 perusahaan yang bisa melebihi 100 persen,” kata Arifin.

Kementerian ESDM, kata Arifin, telah melakukan klasifikasi perusahaan-perusahaan yang tidak dan memenuhi ketentuan DMO.

Terdapat 578 perusahaan yang melakukan kegiatan penambangan batu bara di Indonesia dengan rincian 47 perusahaan mampu penuhi DMO lebih dari 100 persen, 32 perusahaan yang memenuhi DMO rentang 75-100 persen, dan 25 perusahaan hanya memenuhi DMO rentang 25-75 persen.

Kemudian, ada 17 perusahaan yang memenuhi 25-50 persen DMO, 29 perusahaan dengan rentang pemenuhan DMO 1-25 persen, dan ada 428 perusahaan yang tidak pernah memenuhi ketentuan alias nol persen DMO.

Arifin mengungkapkan pihaknya telah mengirimkan dua tim ke lapangan guna mengidentifikasi krisis energi primer pada 1 Januari 2022 lalu. Tim pertama Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan meninjau sarana-sarana penyimpanan batu bara di 10 PLTU yang kritis untuk melihat persediaan stok.

“Hasilnya ternyata stok batu bara cukup kritis, kemudian ini berkembang menjadi 17 unit,” ungkapnya.
Kemudian tim kedua dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara bersama tim bea cukai, BPKP, dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), terjun untuk memeriksa langsung kondisi pelabuhan-pelabuhan ekspor di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera.

Pemeriksaan itu untuk mengetahui jumlah kapal beserta isinya. Sebab, diketahui ada ratusan tongkang dan puluhan kapal-kapal besar yang siap berlayar membawa batu bara ke luar negeri.

“Kalau kita lihat dari 600 juta ton batu bara yang diproduksi di dalam negeri, 40 persen yaitu 240 juta ton masuk ke dalam kategori spesifikasi yang dibutuhkan oleh PLN,” ungkap Arifin.

“Sedangkan pemakaian PLN rata-rata 10 juta ton per bulan, jadi sebetulnya ini akses volumenya banyak, tapi waktu itu memang sudah siap untuk dilempar ke pasar luar,” pungkas Arifin. (git/fin)