Peluang Ekspor Kelapa dan Turunannya di Sumatera Selatan

0
30 views
Ir. Atika soleh, MM APHP Madya Dinas Perkebunan Sumatera Selatan saat melihat salah satu penampungan buah kepala di sumatera selatan.

Oleh        :  Ir. Atika Soleh, MM

APHP Madya  Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan

Produk buah kelapa Sumatera Selatan  masih kesulitan mendapatkan pasar di dalam negeri. Produksi buah kelapa yang dihasilkan petani saat ini hanya terserap sekitar 15 persen untuk kebutuhan masyarakat Sumsel. Baik konsumsi rumah tangga maupun pabrik. Sementara sisanya di ekspor dalam bentuk kelapa bulat.

Sumsel dengan luas areal kelapa 65.242 ha perkebunan kelapa memiliki potensi produksi 57.570 ton kopra atau setara 230.280.000 butir / tahun. Hampir seluruh produk kelapa diekspor ataupun dijual dalam bentuk kelapa bulat. Sebab, petani hanya berorientasi untuk mendapatkan uang dalam jumlah cepat. Sehingga pemanfaatan produknya hanya sebatas kelapa bulat saja.

Padahal, limbah kelapa lainnya memiliki nilai ekonomis tinggi. Seperti sabut kelapa yang bisa diolah menjadi coco fiber, tali tambang dan lainnya. Lalu, air kelapa yang bisa diolah menjadi produk nata de coco. Produk – produk ini jika diolah dan dijual sangat laku di pasaran internasional. Tetapi sayangnya, pabrik yang mengolah produk – produk itu masih sedikit di Sumsel. Baru ada sekitar satu pabrik yang mengolah sabut kelapa menjadi coco fiber.

Pengusaha masih kesulitan untuk mendapatkan pasar yang menerima produk tersebut. Sehingga sangat sedikit yang mau berinvestasi. Langkah hilirisasi sebenarnya sudah mulai dirintis dengan membangun pabrik olahan limbah kelapa di kecamatan Teluk Payau Kabupaten Banyuasin. Pabrik tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Perindustrian. Hanya saja, saat ini masih belum berproduksi lantara tidak memiliki pasar yang jelas.

Untuk itulah, kedepannya pihaknya akan bekerjasama dengan pengusaha dari daerah lain untuk membangun pabrik olahan limbah kelapa di Sumsel. Beberpa waktu lalu, sudah ada perusahaan di Sumsel yang bekerja sama dengan pabrik yang ada di Provinsi Lampung. Nantinya, mereka akan membangun pabrik coco fiber di Sumsel.

Upaya tersebut dilakukan secara bertahap. Sembari nantinya pengusaha akan mencari negara pengimpor hasil produksinya. Selama ini petani hanya mendapatkan nilai ekonomi tanaman kelapa hanya dari kelapa bulatnya saja. Sementara, untuk ekspor buah kelapa bulat saat ini mulai terbatas. Lantaran penerapan beberapa atuaran ketat dari negara pengimpor terkait kualitas buah kelapa.

Seperti yang terjadi di Thailand beberapa waktu lalu. Buah kelapa yang tumbuh tunasnya sedikit saja, mereka tidak mau terima. Oleh sebab itu, pengekspor sedang menyasar pasar Vietnam dan Tiongkok yang sedang membutuhkan pasokan buah kelapa akibat  badai La Nina.

Jika nantinya, hilirisasi produk kelapa sudah berkembang, petanin nantinya bisa mendapatkan nilai ekonomi dari sabut ataupun air kelapanya serta produk turunan lainnya. (**)