Sensasi Monster Laut Dalam Dengan Ombak 4-8 Meter

0
142 views

Dari Trip Graha Pena Fishing Club ke Sport SMR Lampung (1)

 

Rel pancing berderit kencang.  Stik melengkung tajam. Tali pancing ditarik ikan hingga ratusan meter, meliuk pada ketinggian ombak 4-8 meter. Saat bersamaan,  deburan ombak mengelus-elus dinding kapal pada  kedalaman di atas 100 meter.  Sensasi sangat luar biasa. Habislah sudah pilihan kata  untuk mendeskripsikan. Kanvas pun tak cukup untuk melukiskan. Sensasi yang hanya dapat dirasakan oleh para Angler. 

Oleh : Yurdi Yasri, PALEMBANG

Sea Mount Reef (SMR) Lampung merupakan sport favorit bagi Angler di tanah air. Dari berbagai daerah, para mincing mania datang ke sini,  terutama Jawa dan Sumbagsel. Mereka ingin menjajal dan menaklukkan berbagai spesies ikan laut dalam.  Sebut, saja Giant Trevally (GT), Keluarga Tuna, Mackerel,  Tengiri, Kakap Merah, Kerapu dan berbagai jenis ikan penguhuni karang lainnya.  Ukurannya? Jangan ditanya. Pasti di atas 5 kg.

Sea Mount Reef (SMR) yang beberapa sportnya seperti Gosong Pasir dan Gosong Sandal, adalah perairan yang berada pada gugusan cincin api (Ring of Fire) dan palung laut.  Kawasan SMR ini luas sekali. Salah satu koordinat sport pada kedalaman 80 meter adalah    06.11.455 104.55.600.

SMR memiliki beragam kedalaman sesuai dengan kontur dasar berupa pegunungan api yang ada di bawah laut. Ada sport dengan kedalaman sekitar 40-60 meter, kedalaman 70-80 meter serta kedalaman di atas 100 meter.

Sea Mount Reef (SMR) jika diterjemahkan secara bebas, adalah karang besar berbentuk gunung yang berada di bawah laut yang berdampingan dengan cicin api dan palung laut.  Sebuah kawasan  yang sangat disukai oleh berbagai jenis ikan laut dalam. Ini lantaran, kelembaban udara  di bawah laut  yang panas.

Setiap akhir pekan,  para Angler Sumbagsel dan Jabodetabek, ada saja yang menjajal Sport SMR. Bahkan Kapal Motor Singa Laut—armada yang kami pakai, sampai Bulan Februari 2022, sudah dibooking.  Terbukti, Endang Kosasih, saat kami pulang, membayar Down Payment (DP) ke KM Singa Laut untuk keberangkatan Pertengahan atau akhir Februari 2022.

Graha Pena Fishing Club (GPFC) Palembang  mencoba menjajal Sport SMR Lampung pada 17,18, 19 September 2021. Keberangkatan tim dengan jumlah anggota 15 orang ini, diinisiasi Direktur Utama Sumatera Ekspres dan Rakyat Bengkulu Group, H Muslimin. Ini adalah pertama kali tim GPFC ke laut lepas berhadapan dengan Samudra Hindia. Sebuah perjalanan yang sangat mengasyikkan.

Kami start dari Palembang  Kamis, 16 September 2021 pukul 22.00 WIB menuju Lampung. Tak lupa keberangkatan diawali dengan do’a bersama agar selamat pulang pergi. Soalnya, ini adalah medan yang sangat menantang dan untuk pertama kalinya.

Menjelang subuh sudah sampai di Pelabuhan dan Mess KM Singa Laut, Mutun Lampung.  Ini kawasan wisata yang sangat ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun internasional. Begitu datang, para Anak Buah Kapal (ABK) langsung menyambut kami. Mereka cekatan membantu mengangkut barang-barang dari mobil untuk dinaikkan ke kapal.

Anggota tim yang mengantuk– karena keberangkatan ke sport pukul 07.30—bisa memanfaatkan  mess KM Singa Laut untuk tidur. Fasilitasnya sangat memadai dan bersih. Kamar dan ruangan ber-AC. Sebagain anggota lainnya, lebih memilih menikmati keindahan pantai Mutun yang ditimpa kerlap-kerlip lampu Kota Tanjung Karang  dan Kawasan Panjang, Lampung.

Tepat pukul 07.30,  kami beranjak meninggalkan pelabuhan khusus KM Singa Laut. Fasilitas kapal yang dirancang khusus untuk memancing di laut dalam ini, lengkap. Ada GPS, Fish Finder, Life Jacket, kasur empuk   dan ruangan yang full AC. Ini membuat para peserta sangat nyaman. Perjalanan pun dimulai menuju sport utama yang butuh waktu   7—8 jam perjalanan.

Saya dan beberapa anggota tim lainnya berniat untuk langsung istirahat dan tidur setelah menempuh perjalanan dari Palembang sekaligus mempersiapkan fisik untuk tujuan utama—menjajal jujutan ikan-ikan moster laut dalam. Niat ini,  dihalangi oleh sebuah pemandangan pantai dan gugusan pulau serta hijaunya punggung bukit barisan yang sangat indah. View yang fantastik dan menanjakan mata terasa sayang untuk dilewatkan. Untuk tiga jam ke depan, rencana tidur pun ditunda dulu.

Kapal melewati gugusan pulau-pulau kecil di perairan Barat dan Selatan Lampung. Pulau Pahawang, Pantai Mutun dan Tegal Mas yang terkenal itu, memanjakan mata. Itulah pulau-pulau yang menjadi syurganya bagi pencinta pantai. Semua anggota tim terlihat sangat menikmati pemandangan pada 2—3 jam di awal perjalanan. Ini karena, laut yang masih flat (tidak terlalu bergelombang).

Semangat anggota masih terlihat membara. Mereka sibuk menyiapkan peralatan pancing. Anak buah kapal pun, membantu memasangkan pancing. Saya sendiri meminta ABK menyiapkan tiga pancing masing-masing untuk teknik Jigging,  Poping dan Bottom Fishing (dasaran).

Rangkaian mata pancing dasaran ada dua jenis yang dipasangkan ABK. Pertama rangkain mata pancing lebih dari dua buah dengan pola Simpul T dan batu ada di bawah. Kedua teknik dasaran dengan pola konceran, yaitu memasang tiga mata pancing sejajar   pada senar seling.

Teknik dasaran Simpul T menggunakan umpan cumi atau ikan yang disayat/dipotong. Sedangkan teknik dasaran dengan konceran menggunakan umpan ikan utuh yang ketiga mata pancing melekat pada bagian kepala, tengah dan bagain bawah ikan. Teknik ini agar target tetap terperangkap meskipun ikan hanya menyambar bagian ekor atau badan ikan.

Selepas itu, kapal pun mulai memasuki kawasan laut lepas dan dalam yang dibawahnya di dasarnya ada palung laut dan gugusan cincin api. Laut yang awalnya flat (datar) kini mulai bergelombang. Makin ke tengah, ombak pun semakin tinggi.  KM Singa Laut yang membawa kami pun mulai menari-nari.

Raut muka anggota tim GPFC,  beberapa mulai memperlihatkan tidak nyaman. Tanda-tanda mabuk laut mulai menghampiri. ‘’Tampaknya, sudah ada tanda-tanda yang bakal manggil-manggil uwak (muntah),’’ celutuk Endang Kosasih yang pada trip kali ini menjadi leader GPFC ke SMR.

Celetuk pun dibalas oleh Pimpin Tim, H Muslimin. ‘’Kalau ada yang mulai terasa mau mabuk, lebih baik tidur dulu,’’ujarnya. Memang tidur adalah salah satu menghindari agar mabuk tidak terlanjur parah. Di samping untuk persiapan untuk tarik tambang dengan ikan-ikan penghuni gugusan cincin api.

Memang dari awal anggota tim—rata-rata baru pertama kali ke sport SMR—sudah diingatkan.  Memancing ke SMR adalah untuk berwisata. Ini berarti untuk bersenang-senang. Akan tetapi tantangannya sangat berat dan tidak sama dengan memancing di tempat-tempat yang pernah di jajal, seperti  mancing di Bagan Nelayan dan di Karang Pedrik, Selat Bangka.  Sport SMR membutuhkan mental dan stamina yang kuat.

‘’Kita ke SMR untuk ketawa-ketawa bukan untuk sengsara. Bagi anggota tim yang merasa kurang yakin dengan kemampun mental dan fisik, boleh mengundur diri,’’ demikian wejangan pembina GPFC, dua minggu menjelang hari pemberangkatan.

Sekitar pukul 15.00 kami sampai di sport pertama. Anggota tim terlihat tidak sabaran. Saat kapten menyiapkan kapal untuk lego jangkar,  masing-masing sudah menggengam stik dengan posisi ready dilemparkan ke laut. Tak hirau lagi, alun ombak setinggi 4—6 meter  yang mengayun-ayunkan kapal. Teriakan strike pun bersahut-sahutan mulai dari bagian depan hingga puritan kapal. Berbagai jenis dan spesies ikan pun terangkat dan masuk boks yang sudah disiapkan pihak KM Singa Laut. (bersambung)