Sumsel Ini Provinsi Sultan

0
58 views
Ketua HIPMI Sumsel, Hermansyah

Ketua HIPMI Sumsel,  Beberkan Potensi Ekonomi

RADAR PALEMBANG – Sebagai provinsi yang kaya dan terlengkap sumber daya alamnya, Provinsi Sumatera Selatan membutuhkan banyak pengusaha muda lokal yang mampu memaksimalkan potensi tersebut.

Inilah sekilas dan tegas dari keinginan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumatera Selatan, Kgs Hermansyah Mastari saat ditemui di kantornya, Rabu (22/9) siang.

Merupakan wadahnya para pengusaha muda, struktural organisasi HIPMI Sumsel terus menularkan semangat berwirausaha kepada generasi muda. Ini sangat penting, karena saat ini provinsi berjuluk Bumi Sriwijaya dan Indonesia secara umum tengah dilimpahi bonus demografi.

Dimana, banyaknya angkatan muda produktif kerja kini tersebar merata di semua daerah. Hal ini harus dimaksimalkan, melalui mengajak mereka berusaha melalui kerja memberikan nilai tambah dari komoditas lokal agar berdaya saing internasional.

Saat ini, kata Hermansyah, HIPMI sedang membantu, para pengusaha untuk mendapatkan bantuan permodalan dari perbankan. “Kita menjadi kurasi dari pelaku UMKM ini, dan ini saatnya.”

Apalagi, lanjutnya, banyak kader HIPMI dipercaya menduduki kursi menteri di kabinet yang dipimpin Presdien Joko Widodo saat ini. “Harus ada kekuatan dari pengusaha lokal, UMKM disini harus naik kelas.”

Mengenai kategori UMKM sendiri, dirinya menyebut telah diperluas kapasitas usahanya, saat ini omzet sampai dengan Rp50 miliar masih dinilai sebagai UMKM, kalau sebelumnya kategori UMKM hanya sampai Rp15 miliar saja.

Ia menambahkan ini peluang UMKM untuk berkompetisi, caranya bagamana, yakni dengan mengangkat potensi daerah. Dan, tegas Hermansyah, aku bangga dengan banyaknya potensi di Sumatera Selatan ini.

Menurut dia, Sumsel ini provinsi sultan, kayo (kaya,read), ada galo (semua,read), hampir semua komoditi yang diomongke (investor,read), ada galo, tinggal bagaimana pengusaha daerah upgrade (tingkatkan,read), jangan kontraktor saja.

Diusahakan, kata Hermansyah, cari bisnis yang betul-betul luar biasa, di Maspri itu ada potensi udang, kita buat lobang untuk kolam, isi dengan benur dan tanpa dikasih makan 3 bulan, sudah bisa panen 3 bulan kemudian.

Itu, kata Hermanysah, hanya modal Rp5 juta bisa menjadi hasil Rp50 juta, hanya dalam waktu 3 bulan. Belum lagi, sambung dia, untuk potensi walet, ini pengiriman (kargo,read) per harinya dari Sumsel ke Jakarta, mencapai 2 ton, seharinya.

Karena, akui dia, memang di Palembang belum ada pabrik pencucian walet, yang ada masih di Jakarta. Berbicara satu tahunnya, anggap saja, kata dia, ambil minimal 100 ton, itu kisaran nilainya Rp1,3 triliun, kalau dicuci menjadi Rp2,4 triliun dan kalau diekspor bisa menjadi angka Rp40 triliun.

Karena itu, kenang Hermansyah, Sumsel ini punya triliunan rupiah tak kelihatan dari walet saja, kata pak Lutfi (M Lutfi, menteri perdagangan RI, kader HIPMI,read). Untuk sebaran waletnya, kata Hermansyah, dari Selapan sampai dengan pantai timur, diantaranya Sungai Lumpur, Cengal, itu daerah pesisir semua pokoknya.

Dan, beber Hermansyah lagi, hasil waletnya bagus, warnanya putih, itu walet kualitas paling bagus. Ini, lanjut dia, belum bicara soal potensi mineral tambang, yang lagi-lagi membutuhkan peran dari pengusaha lokal agar berdampak ke kesejahteraan yang merata di masyarakat.

“Untuk batubara saja, baru diproduksi sekitar 40 juta ton saja dari potensi 40 miliar ton yang ada di Sumsel, karenanya kita (Sumsel,read) mempunyai PLTU terbesar se-Asia Tenggara di Tanjung Enim, Muara Enim,”ungkap dia kepada Radar Palembang.

Sumsel ini merupakan provinsi terkaya, baik dari sisi sumber daya alam, ada perkebunan punya kelapa sawit, karet dan lainnya. “Sekarang ada namanya jenis umbi-umbian, yakni Porang yang bisa dibuat Shitake,”jelas Hermansyah.

Porang ini, lanjutnya, akan menjadi ikon (pertanian,read) karena kita sudah membuat beberapa pembudidayaan. Lokasinya, kata Hermansyah, di Banyuasin, tepatnya di Km54, dimana tahun lalu diresmikan oleh pak gubernur Herman Deru.

Nah, sambung Hermansyah, tahun ini akan kita tranferkan ke perbankan agar kedepan (petani porang,read) ada moda untuk pengembangan. Budidaya porang juga terbilang mudah dan murah karena tak memerlukan banyak perlakukan khusus. Pohon porang mudah tumbuh dalam berbagai kondisi tanah, bahkan di lahan kritis sekalipun.

Manfaat porang, terutama umbinya, digunakan untuk bahan baku pembuatan tepung konjak atau tepung glucomannan. Tepung ini yang kemudian dipakai sebagai bahan utama olahan shirataki, mi bening yang banyak dikonsumsi di Asia Pasifik.

Unggulan lainnya, ia mencontohkan, kelapa, kita (Sumsel,read) nomor 4 terbesar di Indonesia (produksi,read), banyak potensi di perkebunan, juga ada potensi di perikanan kita punya ikan patin yang bisa dibuat ikan dori.

Bahkan, dirinya mengungkapkan akan melakukan paparan di luar negeri, terkait potensi lada dan vanili di Sumatera Selatan. Karena itu, HIPMI Sumsel terus mengajak anak muda untuk berwirausaha karena terlalu banyak potensi belum digarap maksimal untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat banyak.

“Dibawah HIPMI ini ada ribuan pelaku UMKM, dan kita terus mengajak bagaimana minat menjadi entrepreneur menjadi tujuan pertama dari para pelajar atau mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikannya,”kata Hermansyah.

Tujuannya, sambung dia, untuk memanfaatkan potensi yang ada, Sumsel ini kaya, jadi butuh pengusaha yang banyak. “Kita terus menggaungkan di anak muda, Malu Katek Usaha, jadi selesai pendidikan, mereka tidak nganggur, ada pemasukan. Ini bentuk tanggung jawab kami (HIPMI,read) terkait memaksimalkan potensi bonus demografi.”

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumsel menilai provinsi yang berjuluk Bumi Sriwijaya ini mempunyai banyak potensi dan peluang usaha skala lokal dinilai mampu mendunia.

Apalagi, sambung dia, ini sesuai dengan arah pak gubernur (Herman Deru,read) akan menggali potensi yang ada di Sumsel agar bisa memaksimalkan pendapatan serta memaksimalkan potensi yang menjadi unggulan di Sumatera Selatan.

Untuk itulah, dirinya bersama HIPMI terus menggaungkan anak muda untuk berwirausaha. “Anak muda tentunya tak jadi pegawai lagi, harus bisa menggali potensi daerah masing-masing. HIPMI terus menularkan virus enterprenur ke anak-anak muda,”ujar dia.

Itulah pertemuan singkat Radar Palembang dengan Ketua HIPMI Sumsel, Kgs Hermansyah Mastari yang dengan gigih semangat baja mengajak anak muda berwirausaha. Tujuannya memaksimalkan kekayaan Sumsel untuk kesejahteraan yang merata. (Dav)