Tahun Baru Imlek, Sarat Ritual, Momen Intropeksi Dan Refleksi Diri

0
0 views
Harun SE SH MH

HARUN SE SH MH

Ketua Walubi Sumsel/ Wakil Ketua Martrisia Sumsel

 

BESOK tanggal 12 Februari 2021, masyarakat suku Tionghoa akan merayakan salah satu hari besar, yaitu Tahun baru imlek.. Perayaan ini jika dihitungan dari penanggalan Kong Zi adalah tahun yg ke 2572 disebut sebagai Kong Zi Era karena dihitung dari kelahiran Nabi Kong Hu Cu. Angka ini banyak dipakai oleh penganut Ru.  Jika dihitungan kelahiran  Kaisar Kuning perayaan ini adalah yang ke 4719 Huang Di Era. Angka ini banyak dipakai oleh penganut Dao(Tao). Kedua dua nya benar dak tidak salah. Yang membuat nya  berbeda hanya dari sudut pandang sejarah dari angka tersebut.

LI CHUN (awal musim semi)  tahun ini akan jatuh pada tanggal 3 Februari 2021, pukul 22.58 menit. Imlek tahun ini adalah tahun sapi. Menurut beberapa praktisi hong sui(feng shui) unsurnya Logam. Jadi tahun ini shio sapi berunsur logam. Binatang ke dua setelah tikus dari 12 binatang (Shio) yang dikenal oleh masyarakat Tionghoa. Menurut beberapa ahli ba ji,  bayi bayi yang lahir setelah pukul tersebut sudah bershio sapi logam.

Kata Imlek sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Hokkien (Hokkian) yaitu “im” yang berarti bulan atau lunar dan “lek” yang berarti kalender. Jadi, Imlek berarti kalender bulan, yaitu sistem penanggalan waktu berdasarkan peredaran Bulan.

Meskipun disebut kalender bulan, Imlek pada dasarnya dihitung berdasarkan pada peredaran Bulan dan peredaran Bumi terhadap Matahari. Untuk itu, Imlek disebut sebagai kalender lunisolar. Dan dalam bahasa Mandarin, Imlek disebut Y?nlì (??).

Jadi, Tahun Baru Imlek berarti awal hari pada tahun yang baru dalam penanggalan bulan/lunar. Imlek sejatinya adalah perayaan ganti  musim dari musim dingin ke musim semi. Di Tiongkok dan negara barat  lainnya  ada 4 musim, yaitu musim semi, musim gugur(Zhong Qiu), musim panas (Duan Wu) dan musim dingin(Dong Zi). Perayaan ini sudah dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa ribuan tahun yang lalu. Tahun baru Imlek atau Sin Cia (dialek Hokkian) atau Xin Nian (Mandarin), adalah sebutan umum dikalangan masyarakat Tionghoa. Di Tiongkok perayaan ini disebut Chun Jie-perayaan musim semi. Diantara 4 musim terebut, chun Jie adalah perayaan yang paling meriah dan rangkaian perayaannya yang paling panjang..

Disebut perayaan yang paling panjang, karena boleh dikatakan sudah dimulai sejak tgl.24 bulan 12(cap jie gwe ji si), orang juga menyebut Jie Si Siang An atau lazim dikalangan tionghoa disebut Sang Sin(dialek Hokkian)-yaitu mengantar Dewa Dapur (Cao Kun Kong) yang akan menghadap Kaisar Langit. Di hari ini, masyarakat Tionghoa yang rumahnya mempunyai altar dewa dewi akan melakukan rangkaian upacara sembahyang. Meja altar akan dipenuhi  sesajian seperti kua keranjang(Nian Gao), Huat kwe atau kue/bolu, buah buahan, mie sua, telur merah, teh.dll.

Ada beberapa ritual umum masyarakat Tiongkok khusus nya bagi yg masih memegang tradisi Tao / Tridharma / Konghucu,. ada beberapa kebiasaan yg dilakukan antara lain:

  1. Sembahyang Be Gee/bulan purnama terakhir, imlek tgl.16 bulan 12.
  2. Sembahyang mengantar Para Dewa Dapur (Cao Kun Kong) Ke Langit, ada yang menyebut Toapekong Naik (Imlek tgl 23/24 Bln 12).

3.. Sembahyang kepada leluhur dan sembahyang kepada Dewa/Dewi  satu hari sebelum imlek di rumah (Imlek tgl 29/30 Bln 12)

  1. Sembahyang Menyambut Dewa Rejeki jam 11 malam (imlek tgl.4 bulan 1)
  2. Sembahyang kepada Tuhan Yag Mahaesa(Kaisar Langit/Kheng thi Kong(dialek Hokkian), Imkek tanggal 8 malam/ 9 dini hari/pagi bulan 1, dan
  3. Sembahyang perayaan Cap Go Me imlek tanggal 15 malam bulan 1.

Dan masih banyak lagi sembahyang sembayang  lainnya  menurut kepercayaan dan tradisi masing masing daerah, seperti tradisi makan 7 macam sayur,  sembahyang buang sial, tradisi atau sembahyang ke 8 tempat Ibadat (kelenteng).

Berdasarkan tradisi adat rakyat China yang masih berlangsung sampai saat ini, setiap keluarga pada bulan 12 atau Cap Ji Gwee (bahasa Hokkian) / bulan La (bahasa Mandarin) tanggal 23 atau 24, yang tahun ini jatuh pada tanggal 4 dan 5  Febuari 2021 yang lalu, sudah mengadakan upacara untuk mengantar Zao Shen atau dewa dapur dan juga dari hari inilah sebagai tanda bermulanya sambutan perayaan Tahun Baru China. Perayaan hari ini disebut Xiao Nian atau Tahun Baru Kecil.

Siapa sebetulnya Dewa Dapur ini, mengapa ia begitu dihormati sehingga diadakan upacara khusus, misi apa yang dijalankan? Ada yang mengatakan bahwa Dewa Dapur adalah Kaisar Shen Nong yang mengajari manusia bercocok tanam. Ia pula yang menciptakan api. Dikarenakan jasanya yang besar, setelah wafat ia menjadi dewa yang bernama Zao Shen / Chao kun kong. Diantara dewa-dewi dalam riwayat rakyat China, dewa dapur ialah dewa yang paling bersejarah.

Sejak lebih 2000 tahun yang lalu, penduduk China telah mempunyai tradisi untuk memuja dewa dapur. Khabarnya, dewa dapur ialah dewa yang menjaga dapur dan juga mengawasi tingkah laku semua ahli keluarga. Dewa dapur juga dipuja sebagai dewa penjaga sebuah keluarga.

Di situlah seorang ibu mengomel, ngerumpi bersama ibu-ibu lain, tertawa dan bercanda bersama anggota keluarga lain sambil mengerjakan urusan rumah tangga. Dewa Dapur yang ada di sana pasti mendengar semua perkataan dan mencatatnya. Tanggal 23 dan 24 Cap Ji Gwee atau bulan 12 adalah saatnya Dewa Dapur naik ke langit, melaporkan seluruh kejadian selama satu tahun kepada keluarga itu.

Pada masa lampau, semua keluarga akan menempatkan papan pemujaan dewa dapur di dapur untuk disembah, manakala gambar dewa dapur juga akan digantung pada dinding dapur. Pada gambar dewa itu terdapat tulisan yang berbunyi “Dewa Pengawas Dunia” ataupun “Ketua Keluarga”.

Menurut riwayat rakyat China, semasa penghujung sesuatu tahun, dewa dapur akan naik ke surga untuk melaporkan kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan oleh keluarga yang diawasinya dalam sepanjang tahun itu kepada dewa tertinggi di surga. Maka, dewa tertinggi akan memutuskan nasib keluarga itu pada tahun yang akan datang berdasarkan laporan dewa dapur itu. Oleh sebab dewa dapur naik ke surga pada setiap hari yang ke-23 bagi bulan 12 mengikut kalendar China, jadi upacara pemujaan dewa dapur juga diadakan pada hari itu.

Agar Dewa Dapur hanya melaporkan hal yang baik, manusia mencari akal untuk menyenangkan hatinya. Bahkan, manusia sampai memikirkan agar dalam perjalanan menuju langit, kuda tunggangan sang dewa tidak kelaparan dan hewan peliharaannya di dunia tidak mati kelaparan. Pada tanggal 23 dan 24 itu, rumah Dewa Dapur dibersihkan lalu diberi sesajen. Sesajen ini ada yang wajib dan ada yang tidak wajib.

Pada hari upacara pemujaan dewa dapur itu diadakan, semua ahli keluarga akan berkumpul di dapur pada waktu senja. Mereka akan menghidangkan makanan di depan gambar dewa dapur dan membakar colok untuk memberi penghormatan kepada dewa dapur. Antara makanan yang mesti dihidangkan kepada dewa dapur ialah “tang gua”, sejenis gula-gula yang sangat melekit.

Kononnya, dewa dapur sangat suka makan gula-gula itu, setelah dewa dapur memakan gula-gula itu, mulutnya akan melekat. Jadi, apabila dewa itu naik ke surga, dewa itu tidak dapat memperkatakan keburukan keluarga itu. Selepas upacara pemujaan yang ringkas, gambar dewa dapur akan dibakar supaya dewa dapur dapat naik ke surga bersama-sama asap melalui cerobong dapur.

Dengan demikian, lengkaplah perhatian manusia dalam menghantar dewanya naik ke langit dengan menyimpan maksud tertentu di balik semua itu. Selain itu, pada rumah dewa dipasang bait berpasangan, kuplet atau duilian berbunyi naik ke langit mengatakan hal yang baik, pulang ke rumah membawa keberuntungan, atau naik ke langit mengatakan hal yang baik, turun ke dunia menjaga perdamaian.

Kemudian, pada malam sebelum Tahun Baru China yaitu hari terakhir dari suatu tahun, semua ahli keluarga akan mengadakan upacara menyambut kembalinya dewa dapur dan menggantungkan gambar dewa dapur yang baru pada dinding dapur. Dengan demikian, dewa dapur yang baru dapat kembali ke dunia manusia untuk meneruskan tugasnya menjaga keluarga itu.

Satu hari sebelum imlek, dikalangan masyarakat suku Hokkian ada upacara sembahyang di altar leleuhur di rumah, dengan banyak persembahan  makanan kesukaan  leluhur sebagai wujud bakti dan menyampaikan bahwa besok adalah hari Raya Imlek kepada leluhur yang telah tiada. Dengan harapan agar leluhur juga dapat merasakan kegembiraan. Setelah itu dilanjutkan sembahyang kepada Dew Dewi di altar rumah masing masing sebagai wujud syukur dan ucapan terima  kasih karena telah diberi kesehatan, rezeki dan banyak lagi puja puji lainnya dan berharap agar tahun yang baru tetap diberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah.

Pada malam imlek seluruh keluarga akan berkumpul di ruang tengah melakukan santap malam bersama seluruh keluarga. Keluarga yang jauh dari perantauan biasanya pulang untuk merayakan imlek bersama di rumah orang tuanya. Jika orang tuanya tidak ada lagi  biasanya akan berkumpul di rumah keluarga saudara yang lebih tua atau dituakan. Di sebagian suku Tionghoa ada yang sengaja mengosongkan satu atau dua kursi kosong yang tidak boleh diduduki. Mereka percaya bahwa orang tua mereka yang telah meninggal akan hadir dan duduk di kursi kosong tersebut untuk bersantap bersama dengan mereka.

Makanan  yang wajib ada dan harus disediakan adalah

  1. .Ikan dipercaya sebagai simbol untuk memulai tahun yang baru dengan banyak keberuntungan dan untuk menghindari hal-hal yang buruk. Ikan yang disajikan pada perayaan Imlek haruslah ikan yang utuh dari kepala hingga ekor
  2. Kue Keranjang

Menjelang Imlek, biasanya ada beragam kue atau penganan khas yang wajib disajikan; salah satunya adalah Kue Keranjang atau biasa disebut Nian Gao (??). Di beberapa daerah di Indonesia, kue keranjang juga sering disebut dodol cina.

Disebut Kue keranjang karena mendapat nama dari bentuk wadah cetakannya yang berbentuk keranjang. Kue keranjang sendiri terbuat dari tepung ketan dan gula merah yang dicampur air; setelah itu diaduk hingga kental lalu dicetak dan dikukus.

Nian Gao sendiri terdiri dari dua kata, yakni kata ‘Nian‘ yang berarti tahun dan ‘Gao‘ berarti kue. Kata ‘Gao‘ sendiri juga bisa berarti ‘tinggi’ jika diucapkan dengan nada intonasi yang berbeda. Oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat.

Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu; sehingga memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran, sebagai simbol kehidupan yang manis, kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Selain itu, kue keranjang sendiri juga mempunyai makna sebagai perekat ikatan kekeluargaan, persaudaraan, dan pertemanan.

  1. Jeruk

Dalam karakter bahasa Mandarin (?; pinyin : Chéng), jeruk sering disamakan dengan emas (?; pinyin : j?n). Karena itu, jeruk biasanya dihidangkan selama malam Imlek. Namun jumlah jeruk yang disajikan tidak pernah berjumlah empat (?; pinyin : Sì) atau kelipatan dari empat. Angka ini dianggap sebagai angka sial yang berarti kematian (?; pinyin : s?) karena memiliki intonasi yang hampir sama dalam bahasa.

  1. Mie

Penganan Mie terbuat adonan tipis dan panjang yang telah digulung, dikeringkan, dan dimasak dalam air mendidih. Berbagai bentuk/variasi dari mie dapat ditemukan di berbagai tempat karena campuran bahan, jenis tepung sebagai bahan baku utama, serta teknik pengolahan yang berbeda-beda. Kehadiran menu mie pada setiap momen Imlek dipercaya sebagai simbol umur panjang. Dan banyak lagi makanan/buah buahan wajib lainya seperi buah apel, buah pear

semuanya mempunyai makna yang positif . Saling bersantap,bersendau gurau dan berbagi cerita selama mereka di perantauan. Saling memaafkan dan berharap kesalahan mereka selama setahun dimaafkan dan berjanji agar kedepan tidak akan lagi mengulangi perbuatan yang salah terharap saudara dan keluarganya. Ini merupakan momen intropeksi dan refleksi diri.

Di malam ini juga biasanya dilakukan orang tua akan membagi angpao kepada anak anak dan mereka yang belum menikah diiringi dengan doa doa dan sedikit wejangan agar kedepan mereka semua akan berhasil dalam segala hal. Dan dilanjutkan dengan pemberian angpao dari saudara yang telah menikah kepada orang tuanya dan anak anak dan yang belum menikah. Mereka mengepalkan tangannya dengan sikap soja saling mengucapkan “Sin Chun Kiong Hi”. ” Kiong Hi Fat Chai”, “Gong Xi Xien Nien” dan sebagainya

Pemberian angpao jangan dilihat dari isi angpaonya tapi makna dibalik pemberian angpao tersebut sarat dengan doa doa dan harapan positif dari pemberinya.

Setelah semua ini selesai sebagian yang laki laki  akan langsung ketempat tempat Ibadat (kelenteng) untuk melakukan sembahyang menyambut tahun baru imlek. Dan yang perempuan akan langsung pulang kerumah untuk menyiapan segala keperluan untuk keesokan harinya seperti kue kue, makanan minuman dan lainnya untuk tamu tamu yang nanti akan berkunjung untuk bersilahturahmi . Penerangan dalam rumah dinyalahkan seterang mungkin dan dulu pintu rumah dibiarkan terbuka lebar dengan harapan agar dewa Rezeki akan masuk kerumah membawa berkah dan rezeki.

Menyapu merupakan salah satu kegiatan  yang pantang dilakukan saat imlek. Menyapu berarti mengusir dewa rezeki masuk kerumah kita. Jadi sapu akan ditaruh dan disimpan ditempat yang tidak terlihat,

Di samping sapu tersebut, menurut kepercayaan Suku Tionghoa ada banyak pantangan yang tidak boleh dilakukan saat Hari Raya Imlek, seperti memotong, mengunting, menjahit yang konon menurut kepercayaan semua barang tersebut akan memotong rezeki kita sepanjang tahun. Keramas, mencukur, kata kata berkonotasi buruk juga pantang diucapkan ditahun baru imlek. Memecahkan piring, gelas dan sejenisnya juga tidak baik di hari imlek. Bahkan ada suku Tionghoa tertentu yang meyakini agar tidak makan bubur di hari imlek. Karena bubur adalah simbol kemiskinan.

Tahun ini perayaan imlek sedikit berbeda dari tahun tahun sebelumnya, karena dirayakan dalam situasi yang sangat tidak bagus. Pandemi covid 19 yang melanda hampir seluruh dunia juga dirasakan oleh kita di sini. Untuk itulah di tahun ini sebaiknya rayakanlah imlek secara sederhana. Sesuai anjuran pemerintah dan himbauan dari  tokoh tokoh agama dan tokoh tokoh masyarakat.

Seperti tetap menerapkan protokol kesehatan, 3 M, memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan menghindari kerumunan dimanapun berada. Semua tempat ibadat pasti sudah menerapkan semua protokol kesehatan saat pandemi ini mulai merebak. Di saat menyambut imlek semua protokol kesehatan yang sudah ada pastinya sudah  diperkuat lagi oleh pengurusnya. Namun sebagus apapun penerapan yang di lakukan oleh pengurus tempat ibadat,  akan sia sia jika tidak ada kesadaran dan displin dari umat untuk mematuhinya.

Semua himbauan tersebut sangat baik untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi. Silahturahmi boleh saja dilakukan dengan cara virtual, begitu juga beribadat di tempat ibadat. Memang ada mashab tertentu ibadatnya tidak bisa dilakukan secara virtual. Contohnya penganut ajaran Tridharma, mereka akan mendatangi tempat ibadat(kelenteng).  Jika di rumah ada altar dewa dewi, sembahyang sebaiknya di rumah saja. Jika “terpaksa”  harus Ibadat (sembahyang)  tidak harus datang ke tempat ibadat tertentu yang ramai umatnya, sembahyang boleh dilakukan di tempat ibadat manapun yang dekat dengan rumahnya. Atau bisa mengatur jam jam sembahyang disaat umatnya sedikit atau sembahyangt di hari berikutnya, karena ibadah imlek waktunya panjang sekali, sampai cap go me yaitu hari ke lima .

Tentunya ditahun baru ini, kita semua berdoa dan berharap agar pandemi ini segera berakhir. kita juga berterima kasih kepada pemerintah, vaksin sudah dilakukan kepada masyarakat secara bertahap. Tetap optimis dan semangat bahwa tahun depan harus lebih baik dari tahun ini. (*)

Dikutip dari berbagai sumber dan artikel

Selamat Rayakan Imlek.

XIN CHUN GUAI LEE , GONG XI GUAI LE. SHEN DI JIAN GANG, SHENG YI XI LONG WAN SE RU YI