Tak Hanya Pedas, BGMA Juga Angkat Sejarah ‘Wong Kito’

0

RADAR PALEMBANG – Dikenal sebagai pelopor bakso pedas Palembang sejak tahun 2011, pemilik Bakso Granat Mas Aziz (BGMA), Abdul Aziz mulai mengubah konsep bakso pedas menjadi baksonya Wong Palembang. Hal ini diungkapkan pria yang biasa disapa Aziz ini beberapa waktu lalu di BGMA cabang Celentang.

“Kita dari awal konsepnya pedas terus, tapi setelah melihat data penjualan ternyata banyak juga yang tidak suka pedas. Untuk itu kami mulai mengubah konsep kami menjadi baksonya Palembang. Gimana caranya selain bakso pedas, kami juga menyuguhkan baksonya wong Palembang, karena yang makan di sini banyak yang bawa keluarga, dan kami berharap yang dari luar kota kalau pengen makan bakso ciri khas Palembang nyarinya ke BGMA,” tuturnya.

Ditambahkan Aziz, perubahan ini juga termasuk interior ruangan di empat outlet BGMA di mana setiap outlet memiliki konsep desain yang berbeda, seperti outlet Pakjo mengangkat Palembang Darussalam, sementara outlet Bukit mengangkat Perang 5 Hari 5 Malam.

Sedangkan outlet Jakabaring direncanakan akan mengangkat kerajaan Sriwijaya. “Untuk outlet terbaru kita di Celentang, masih rahasia, tunggu tanggal mainnya, tapi semua tetap ada unsur tentaranya,” ujarnya.

Lebih lanjut disebutkannya, singkatan BGMA juga memiliki makna tersendiri, seperti B (Bersih) di mana tempat makan ini sangat menjaga kebersihan. Untuk G (Gesit), di mana karyawan akan memberikan pelayanan yang cepat, sedangkan M (Mantap rasanya), pihaknya saat ini sedang membangun tempat produksi dan mengurus proses mendapatkan label Halal dari MUI. Sementara A (Asik), pihaknya sedang mengupayakan ada hiburan live music di setiap outlet. “Misalnya hari ini ada live music di celentang, besok di Bukit, terus bergantian. Kan asik lagi makan bakso sambil dengerin musik,” ucapnya.

Tidak hanya mengutamakan keuntungan semata, pihaknya juga berusaha menjadikan setiap outlet BGMA bermanfaat untuk sesama. “Satu outlet BGMA membiayai listrik dan air satu masjid. Kita juga punya Rumah Thafidz yang ada di Prabumulih, saat ini sudah ada 60 santri.

Selain itu kita juga menerima kunjungan kampus-kampus untuk belajar wirausaha, ke depan mungkin kita rangkul anak-anak untuk memberikan edukasi cara membuat bakso dan mengenal sejarah Palembang. Pokoknya bagaimana kami bisa bermanfaat buat sesama,” tutupnya. (hen)