Topang Bisnsi Berkelanjutan BRI Salurkan  Kredit Rp 579,7 Triliun

0
0 views
Ilustrasi Kantor BRI pusat di Jakarta

RADAR PALEMBANG – PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat penyaluran kredit kepada kegiatan bisnis berkelanjutan telah mencapai Rp579,7 triliun sejak Januari-Maret 2021. “Total tersebut sekitar 64,7 persen dari keseluruhan penyaluran kredit BRI,” ujar Direktur BRI Sunarso dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Sunarso merinci kredit tersebut disalurkan paling banyak kepada usaha mikro sebesar Rp490,8 triliun, kemudian sektor energi terbarukan senilai Rp15,7 triliun, kegiatan usaha pencegahan dan pengawasan polusi Rp2,4 triliun, transportasi ramah lingkungan Rp18,3 triliun, dan bangunan hijau Rp2,8 triliun.

Kemudian, untuk kegiatan usaha pengelolaan sumber daya alam hayati yang berkelanjutan secara lingkungan dan tata guna lahan Rp39,1 triliun, konservasi keanekaragaman hayati darat dan perairan Rp714 miliar.

Selanjutnya, pengelolaan air dan limbah air yang berkelanjutan sebesar Rp673 miliar, bisnis produk, teknologi dan proses produksi yang ramah lingkungan Rp9 triliun, serta proyek terkait keberlanjutan lainnya Rp290 miliar. Dengan penerapan sistem keberlanjutan tersebut, Sunarso mengatakan kinerja BRI secara finansial masih terus membaik walaupun di tengah krisis COVID-19. “Terbukti dari aset kami yang sampai triwulan I-2021 mampu tumbuh 6,8 persen,” ungkapnya.

Penyaluran kredit bank pelat merah tersebut juga mampu tumbuh 1,4 persen di tengah kontraksi pertumbuhan kredit secara nasional, dengan kontribusi terbesar dari kredit segmen mikro yang melesat hingga 16 persen.

Ia menambahkan total simpanan atau dana pihak ketiga (DPK) BRI mampu tumbuh 5,6 persen, dengan rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) naik tipis 3,12 persen, dan ada peningkatan perhitungan aset berkualitas rendah atau Loan at Risk (LAR) sebesar 28,84 persen.

Tren Global

Menurut Sunarso tren investasi berkelanjutan global terus meningkat dari Rp324 ribu triliun atau 22,9 triliun dolar AS pada 2016 menjadi Rp565 ribu triliun setara 40 triliun dolar AS pada 2020. “Telah terjadi realokasi investasi di dunia yang mengarah kepada investasi berkelanjutan dan sudah meningkat 96 persen,” kata Sunarso dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Sementara itu, ia melanjutkan, investasi berkelanjutan di BRI juga naik dari Rp709 miliar pada Maret 2020 menjadi Rp2,15 triliun pada Maret 2021, yang berasal dari beberapa investor seperti BlackRock, JPMorgan, dan sebagainya.

Maka dari itu, Sunarso menilai penting bagi seluruh perbankan agar terlibat dalam gerakan investasi berkelanjutan, terutama untuk memastikan bahwa perusahaan bisa terus berkelanjutan. Selain meningkatkan profitabilitas, perbankan juga diminta menjadi perusahaan yang ramah lingkungan, bertanggung jawab secara sosial, dan perusahaan yang memiliki tata kelola baik.

“Perusahaan dengan profil keberlanjutan yang baik akan membangun konektivitas dengan stakeholder dan menciptakan keunggulan yang akan berakibat pada valuasi,” ungkap Sunarso.

Ia pun membeberkan, terdapat empat area yang bisa difokuskan perbankan agar bisa melakukan investasi berkelanjutan, yakni risiko, investor, regulasi, dan nasabah.

Adapun risiko berkelanjutan penting untuk difokuskan melalui identifikasi dan langkah preventif, sedangkan untuk investor yang perlu diperhatikan yakni keinginan penanam modal agar bank menjadi perusahaan yang berkelanjutan.

Kemudian, untuk regulasinya bisa difokuskan melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 51/POJK.03/2017, dengan fokus kepada nasabah melalui pengembangan produk perbankan untuk memenuhi permintaan produk ramah lingkungan dan efisien. (seg)